Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) Teori Pembelajaran Kognitif (E.C. Tolman)

Standar

Oleh
Muhammad Shobirin
PPs UNNES
A. Pendahuluan
Dalam penerapan Strategi Berbasis Masalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah , walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis.
Perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotor melalui penhayatan secara internal akan problem yang dihadapi. SPBM diharapkan dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka SPBM merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Tidak sedikit siswa yang mengambil jalan pintas, mislnya dengan mengonsumsi obat-obat terlarang atau bahkan bunuh diri hanya gara-gara tidak sanggup memecahkan masalah.


B. Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM.
Terdapat 3 ciri utama dari SPBM :
1. SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. SPBM menharapkan siswa aktif berfikir, berkomunikasi mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkan.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. SPBM menempatkan masalah sebagai kunci dari proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah. Berfikir secara sistematis artinya berfikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu sedangkan berfikir empiris artinya proses penyelesaian didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :
 Manakala guru menginginkan agar siswa menguasai dan memahami materi pelajaran secara penuh.
 Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan ketrampilan berfikir rasional siswa, menganalisis situasi baru, mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
 Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
 Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
 Jika guru ingin mengetahui hubungan antara teori dengan kenyataan.
C. Hakikat Masalah dalam SPBM.
Perbedaan antara Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) dengan Strategi berbasis Masalah (SPBM) terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai. Dalam SPI tugas guru pada dasarnya mengiring siswa melalui proses tanya jawab pada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari satu masalah.
Tujuan SPBM adalah kemampuan siswa untuk berfikir kritis, analitis, sistematis dan ulogis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam SPBM.
1. Bahan Pelajaran mengandung isu-isu konflik (conflict issue) bersumber dari berita, rekaman, video
2. Bahan yang dipilih bersifat familiar dengan siswa
3. Bahan yang dipilih yang berhubungan dengan orang banyak (universal)
4. Bahan yang dipilih yang mendukung tujuan atau kompetensi yang dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
D. Tahapan-tahapan SPBM
John Dewey menjelaskan 6 langkah SPBM dinamakan metode pemecahan masalah (Problem Solving) :
1. Merumuskan masalah
2. Menganalisis masalah
3. Merumuskan hipotesis
4. Mengumpulkan data
5. Pengujian hipotesis
6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah
David Johnson & Johnson mengemukakan ada 5 langkah SPBM melalui kegiatan kelompok
1. Mendefinisikan masalah
2. Mendiagnosis masalah
3. Merumuskan alternatif strategi
4. Menentukan dan menerapkan strategipilihan
5. Melakukan evaluasi
Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, Secara umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah :
1. Menyadari masalah
Implementasi SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan.
2. Merumuskan masalah
Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang harus dicari dari kesenjangan, selanjutnya difokuskan pada masalah apa yang pantas dikaji.
3. Merumuskan hipotesis
Sebagai proses berfikir ilmiah yang merupakan panduan dari berfikir dedukatif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan.
4. Mengumpulkan data
Sebagai proses berfikir empiris, keberadaan data dalam proses berfikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting.
5. Menguji hipotesis
Berdasarkan data yang dikumpulkan, akhirnya siswa menentukan hipotesis mana yang diterima dan mana yang ditolak.
6. Menentukan pilihan penyelesaian
Menentukan pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM.
E. Keunggulan dn Kelemahan SPBM
1. Keunggulan
Beberapa keunggulan SPBM
a. Problem Solving merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Problem Solving menentang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Problem Solving dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa
d. Problem Solving dapat membantu siswa bagaimana mentranfer pengetahuan merekauntuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Problem Solving dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f. Problem Solving memperlihatkan pada siswa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berfikir.
g. Problem Solving dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
h. Problem Solving dapat mengembangkan siswa untuk berfikir kritis
i. Problem Solving dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j. Problem Solving dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
2. Kelamahan
a. Ketika siswa tidak mempunyai kepercayaan bahwa mansalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan Problem Solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan maslah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang ingin pelajari.

Pembelajaran Kognitif (Edward Chace Tolman)
Tolman secara metodologis adalah behavioris namun secara metafisika dia adalah teoristis kognitif. Dengan kata lain dia mempelajari perilaku untuk menemukan proses kognitif. Tolman tak pernah berpendapat bahwa perilkau dapat dibagi-bagi menjadi unit-unit kecil untuk tujuan studi, dia menanggap seludiberuh pola perilaku memilki makna yang akan diteliti dari sudut pandang elemenstitik.
Tipe perilaku oleh Tolman (1932) diberi label sebagai Molar dicontohkan dalam bagian berikut :
Seekor tikus berlari di jalur teka teki, seekor kucing keluar dari kotak teki-teki, seorang laki-laki berkendara pulang kerumah untuk makan malam, seorang anak bersembunyi dari orang asing, seorang wanita mencuci piring atau menggosip, ditelepon seorang murid mengerjakan ujian, seorang psikolog menbacakan daftar kata tak bermakna ini semua perilaku (qua molar). Perlu dicatat dalam menyebutkan itu semua kita tidak menunjukan dimana letak otot dan kelenjar, saraf indrawi, dan saraf motor yang dibutuhkan untuk perilkau itu. Respons-respons perilaku itu memiliki properti identitas sendiri yang sudah memadai.
BEHAVIORISME PURPOSIF
Tolman menggunakan istilah purposive sebagai deskripsi saja. Dia mencatat bahwa perilaku pencarian yang dilakukan seekor tikus dalam jalur teka-teki akan terus dilakukan sampai makanan ditemukan jadi perilakunya tampak “Seolah-olah” memiliki tujuan atau purposif.
Tolman istilah purposive digunakan untuk mendiskripsikan perilaku, sebagimana kata lambat, cepat, benar, salah atau belok kanan bisa dipakai untuk menjelaskan perilaku.
Menurut Tolman perilaku tampak seolah-olah memiliki tujuan selama organisme mencari sesuatu didalam lingkungan.
Innis (1999) Memperkuat klaim Tolman bahwa :
Karakter tindakan yang akan terus dilakukan sampai mencapai sesuatu yang dapat dilihat secara langsung, didefinisikan sebagai purposive. Pemilihan rute atau cara untuk mendapatkan atau menjahui suatu tujuan juga dapat diamati secara langsung. Perubahan perilaku jika suatu diubah juga dapat diamati secara langsung. Dalam observasi ini kita memiliki pengukuran objektif atas kognisi hewan.
Penggunaan Tikus
Tikus tinggal disangkar mereka tidak keluyuran malam-malam sebelum seseorang merencanakan percobaan mereka tidak saling membunuh mereka tidak menciptakan mesin penghancur, dan seandainya mereka bisa menciptakanya mereka tidak akan layak mengontrol mesin itu, mereka tidak mengalami konflik kelas atau konflik ras mereka menghindari politik, ekonomi dan paper psikologi. Mereka hebat, murni dan menyenangkan.
KONSEP TEORETIS UTAMA
Tolman memperkenalkan penggunaan variabel intevening (penyela) ke dalam riset psikologi dan Hull meminjam ide ini dari tolman. Hull mengembangkan teori belajar yang lebih luas dan komperhensif ketimbang Tolman.
Apa yang Dipelajari ?
Tolman memulai dari teori Gestalt dengan mengatakan bahwa belajar pada dasarnya proses menemukan hal-hal tertentu dalam lingkungan. Belajar ketika jam menunjuk pukul 5 sore (S1) maka makan malam akan segera siap (S2) karena itu Tolman disebut teoritis S-S, bukan S-R. Menurut Tolman belajar adalah proses yang tidak membutuhkan motivasi. Dalam hal ini Tolman sepakat dengan Guthrie dan bertentangan dengan Thorndike, Skinner dan Hull.
Motivasi penting dalam teori Tolman karena ia menentukan aspek apa dalam lingkungan yang akan diperhatikan oleh organisme. Motivasi bertindak sebagai emphasizer.

Pelan-pelan ia mengembangkan gambaran tentang lingkungan yang dapat di gunakan untuk menjelajahinya. Tolman menyebutnya sebagai Cognitive Map (Peta Kognitif).
Jika rute yang biasa dilewati untuk pulang kerumah ditutup manusia akan berputar arah. Akan tetapi organisme akan memilih rute terpendek atau rute yang akan membutuhkan banyak kerja atau tenaga. Ini dinamakan Principle Of Least Effort (Prinsip Usaha Kecil)
Konfirmasi Versus Penguatan.
Ekpetasi adalah perkiraan tentang apa yang akan muncul. Ekspetasi tentatif awal dinamakan hypotheses (hipotesis) dan hipotesis ini akan dikonfirmasi atau dibantah berdasarkan pengalaman.
Sebuah expectancy (harapan) yang secara konsisten dikonfirmasi akan berkembang menjadi apa yang disebut Tolman sebagai means-end redines (kesiapan cara-tujuan) atau disebut keyakinan. Jadi confirmation of an expectancy (konfirmasi harapan)dalam perkembangan peta kognitif sama dengan gagasan penguatan, seperti yang dipakai oleh behavioris.
Vicarious Trial and Error
Tolman mencatat karakteristik seekor tikus dalam jalur teka-teki yang digunakanya untuk mendukung interpretasi kognitif terhadap belajar. Tikus sering berhenti disatu titik dan tampak seolah-olah sedang memikirkan jalur alternatif yang tersedia.tindakan sejenak dan melihat-lihat oleh Tolman dinamakan Vicariuos Trial and Error. Jadi tikus tidak mencoba suatu respon lebih dahulu dan kemudian mencoba respons lainya sampai solusi didapat, tetapi tikus itu melakukan pengujian pendekatan berbeda-beda secara kognitif, bukan secara behavioral dengan menggunakan cara Vicarious Trial and Error (Uji Coba Dengan Pengganti).
Belajar Laten
Latent Learning (belajar laten) adalah belajar yang tidak diterjemahkan kedalam performa atau kinerja. Dengan kata lain hasil belajar akan tetap disimpan dalam jangkau waktu yang lama sebelum ia dimunculkan dalamm bentuk prilaku. Konsep belajar laten sangat penting bagi Tolman dan dia menganggap dirinya telah berhasil menunjukan eksistensinya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s